Tolong #hari-29

Tolong, untuk kau yang telah datang

Untuk kau yang telah memberiku harapan.

Untuk kau yang telah kuberi hati.

Jangan pergi, lagi.

Tolong.

Advertisements

Mengapa? #hari-27

Terkadang saya merenung sendiri sebelum tidur hingga larut dalam sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak penting.

“Mengapa saya ada di sini?”

Yang kemudian pertanyaan itu terjawab sendiri di dalam hati

“Karena mau Tuhan begitu.”

Sesederhana itu. Kemudian saya tertidur.

Halo #hari-23

Ada yang bilang, sebuah ucapan “halo” dapat mengindikasikan sebuah perpisahan yang tak bisa dipertemukan kembali.
Karena pada dasarnya pertemuan itu ada sebagai alasan untuk mengucapkan “selamat tinggal”.

Rumah #hari-20

Hari ini, di tengah hectic-nya tugas, baik tugas kuliah maupun kepanitiaan, saya nekat pulang ke rumah. Iya, rumah di planet Bekasi sana. Saya rela menghabiskan 8 jam duduk di kereta, membolos kelas sore (yang biasanya dipindah ke hari Rabu pagi) demi bisa pulang ke rumah.

Beberapa teman yang saya ceritakan sempat nyinyir. Ya memang, saya akui, manja sekali seorang mahasiswa tidak bisa menahan rasa homesick? Dikira harga tiket kereta Yogyakarta-Bekasi seharga tiket KRL di Jakarta?

Saya, sebagai anak perantau yang cukup tangguh tidak pulang kecuali saat libur akhir semester memang sempat menjadi salah satu dari mereka yang nyinyir itu. Tapi sekarang, bahkan setiap akan tidur saya selalu menangis diam-diam karena rindu pelukan Ibu di saat saya sedang terbebani oleh tugas sekolah, memiliki masalah dengan teman, kesulitan dengan pelajaran, dan beban-beban lainnya. Dan semua yang saya alami di masa sekolah itu belum ada apa-apanya dibanding dengan semua yang telah dan sedang saya alami di dunia perkuliahan ini.

Ah, malu kalau saya lanjut. Mau bagaimana lagi, saya masih tergolong newbie menjalani kehidupan kuliah. Ini cuma sekedar tulisan galau anak yang baru pisah dari orangtua.

Lalai #hari-17

Dari #hari-9 langsung #hari-17?

Entah hanya saya atau mungkin ada manusia-manusia lain yang sejenis, tetapi pada suatu saat terjadi momen di mana sebuah tanggung jawab terdistraksi oleh tanggung jawab lain yang memiliki angka skala prioritas yang ‘kebetulan’ lebih tinggi.

Dan momen itu terjadi pada #hari-10 hingga #hari-16.

Secepatnya ketika serebrum ini bisa bekerja dengan lancar jaya tanpa hambatan, saya akan melengkapi hari-hari di mana saya absen menulis.

Salam.

Perjuangan #hari-9

Kalau kemarin saya beropini, hari ini boleh ‘kan saya bercerita? Hehe.

Dilihat dari judulnya, saya seakan-akan mau bercerita soal perjuangan pahlawan atau kisah heroik lainnya seperti cerita-cerita kebanyakan. Sayangnya bukan. Ini cerita perjuangan saya sendiri. Bagaimana saya bisa berada di sini, duduk manteng di depan laptop, sedang sibuk-sibuknya menggarap proposal untuk kegiatan PPSMB jurusan demi menyambut adik-adik tingkat saya nanti, sementara esok pagi pukul 6 saya sudah harus berada di kampus menjadi panitia acara pertandingan voli antar SMA/SMK, dan tugas-tugas saya yang lain sudah menunggu minta dituntaskan, dan yang paling terpenting: Bagaimana saya saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada?

Pada masa SMA dulu, ketahuilah saya sama sekali bukan murid yang tergolong pintar dan cerdas seperti yang teman-teman bayangkan. Apalagi berprestasi. Di kelas, baik kelas 10, 11, hingga 12, saya bukan murid yang langganan atau sering mendapatkan nilai ulangan di atas sembilan, karena saya menganggap nilai tujuh pun merupakan suatu prestasi luar biasa bagi saya. Bukan karena pelajarannya yang sulit, tapi memang saya yang bodoh.
Bisa dibilang saya murid IPA gadungan. Tidak satu pun pelajaran IPA yang bisa dikatakan saya kuasai, karena saya lemah pada keempatnya. Ditambah saya bukan anak yang punya sifat rajin. Sebagai pelengkap dari segala kelemahan yang saya punya, saya bukan orang yang punya banyak uang untuk sekadar membeli buku soal, apalagi mengikuti bimbel. Jadi semuanya saya perjuangkan sendiri bermodalkan otak yang super kopong ini, dan bisa teman-teman tebak sendiri hasilnya. Nilai mungkin nggak terlalu jeblok-jeblok amat, karena sepertinya terbantu dari pelajaran non-IPA lainnya. Tapi masalahnya, teman-teman saya adalah orang-orang yang luar biasa ambisinya untuk mengejar kampus impian mereka dengan segala kecerdasan yang mereka punya. Alhasil, kesempatan untuk bisa mengikuti SNMPTN pun saya tidak punya, lolos PDSS-nya pun tidak. Ya, saya masuk ke dalam golongan 25% murid dengan nilai terendah di sekolah.
Tapi rupanya, Allah justru mempermudah jalan saya dengan kegagalan itu. Tidak lebih dari 2 minggu, saya berhasil bangkit kembali dari keterpurukan menyesali nilai rapot saya yang membuat pupus kesempatan untuk ikut SNMPTN. Saya kembali menemukan semangat untuk mengejar ketertinggalan materi UN (yang hasilnya jangan ditanya karena mau mengingat pun saya enggan) dan tibalah masanya memperjuangkan SBMPTN. Karena saya murid IPA yang selama tiga tahun belajar IPA, saya terpaksa mengejar materi lintas jurusan alias IPS dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan dan lagi, tanpa bimbel
Di tengah-tengah masa perjuangan inilah, saya menemukan strategi untuk bisa mengejar skor SBMPTN, yaitu dengan memperkuat “kemahiran” saya mengerjakan soal TKPA yang jumlahnya lebih banyak dari materi SOSHUM itu sendiri. Jadi setidaknya saya bisa mendapatkan bonus nilai 30% jika saya bisa menjawab 45 soal TPA dengan lancar. Strategi ini saya dapatkan dari teman seperjuangan saya yang bernasib sama pada masa sekolah dan tidak bisa ikut SNMPTN karena nilai sama-sama kurang. Anyway, syukur alhamdulillah dia bisa mencapai mimpi terbesar sekaligus terbodohnya (Dia sendiri lho yang bilang) sejak kelas 10, yaitu masuk FSRD ITB.
Kurang lebih H-seminggu SBMPTN, saya mendapatkan rezeki luar biasa dari teman saya yang sudah berhasil lebih dulu mendapatkan bangku di Pendidikan Dokter Universitas Andalas melalui jalur SNMPTN. Sebelumnya dia sudah mengikuti bimbingan intensif di sebuah lembaga bimbel, dan kemudian jatahnya yang tersisa seminggu itu dihibahkan kepada saya. Dan selama seminggu yang tersisa itu pula saya mengejar materi SOSHUM yang selama ini tidak saya dapatkan dengan belajar sendiri.
Dan pada H-1 sebelum SBMPTN dilaksanakan, saya sengaja membebaskan diri saya dari segala yang berhubungan dengan belajar agar tidak stres, dan menggantinya dengan istirahat serta berdoa, termasuk menunaikan sholat hajat dan tahajud. Oh ya, H+5 SBMPTN saya juga mengikuti seleksi pada suatu universitas swasta yang kebetulan menyediakan beasiswa tidak mampu. Jadi setidaknya saya punya cadangan apabila SBMPTN pupus. Tidak lolos dua-duanya? Ya, ((tinggal)) gap year. Sejak awal saya memang sudah menyiapkan mental untuk melalui masa gap year dengan mengikuti SBMPTN tahun berikutnya jika saya tidak bisa berkuliah tahun ini. Namun siapa yang nggak deg-degan sih menunggu pengumuman SBMPTN? Sampai saya pun hampir melupakan hari “ketambahan umur” yang memang tanggalnya berdempetan sehari dengan hari pengumuman.
Saya masih ingat dengan detil gejolak perasaan apa saja yang saya alami selama detik-detik sebelum, saat, dan setelah membuka website pengumuman. Saya bahkan sudah bersiap dan yakin tidak akan menangis jika saya tidak lolos di salah satu dari tiga pilihan universitas, mungkin karena tempaan mental sejak dini untuk menghadapi masa gap year. Kenyataannya, saya menangis. Menangis saat mendapati tulisan “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2016 di : ILMU KOMUNIKASI, UNIVERSITAS GADJAH MADA” tertera di layar HP.
Kegigihan, keyakinan, dan kekuatan. Nilai itulah yang menjadi modal saya menempuh seluruh rangkaian perjuangan dari nol besar hingga saat ini, saat di mana saya belum tuntas menyelesaikan proposal yang harus diserahkan ke fakultas besok dan malah mengetik cerita ini karena capek. Asli, jadi mahasiswa, apalagi yang aktif berorganisasi itu capek.

Tapi saya tidak menyesal. Inilah yang saya cari: Pengalaman.

Intinya, pesan untuk teman-teman yang mungkin merasa bernasib sama, saya ingin kalian percaya keajaiban itu ada. Bukan keajaiban tanpa modal apapun kalian bisa lolos ke universitas yang kalian inginkan, tapi keajaiban kalian bisa bangkit dari keterpurukan karena tidak punya modal apa-apa. Sisanya, silakan tafsirkan sendiri tambahan moral dari kisah saya ini. Sekian, dan terima cinta.