Mengapa? #hari-27

Terkadang saya merenung sendiri sebelum tidur hingga larut dalam sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak penting.

“Mengapa saya ada di sini?”

Yang kemudian pertanyaan itu terjawab sendiri di dalam hati

“Karena mau Tuhan begitu.”

Sesederhana itu. Kemudian saya tertidur.

Advertisements

Halo #hari-23

Ada yang bilang, sebuah ucapan “halo” dapat mengindikasikan sebuah perpisahan yang tak bisa dipertemukan kembali.
Karena pada dasarnya pertemuan itu ada sebagai alasan untuk mengucapkan “selamat tinggal”.

Rumah #hari-20

Hari ini, di tengah hectic-nya tugas, baik tugas kuliah maupun kepanitiaan, saya nekat pulang ke rumah. Iya, rumah di planet Bekasi sana. Saya rela menghabiskan 8 jam duduk di kereta, membolos kelas sore (yang biasanya dipindah ke hari Rabu pagi) demi bisa pulang ke rumah.

Beberapa teman yang saya ceritakan sempat nyinyir. Ya memang, saya akui, manja sekali seorang mahasiswa tidak bisa menahan rasa homesick? Dikira harga tiket kereta Yogyakarta-Bekasi seharga tiket KRL di Jakarta?

Saya, sebagai anak perantau yang cukup tangguh tidak pulang kecuali saat libur akhir semester memang sempat menjadi salah satu dari mereka yang nyinyir itu. Tapi sekarang, bahkan setiap akan tidur saya selalu menangis diam-diam karena rindu pelukan Ibu di saat saya sedang terbebani oleh tugas sekolah, memiliki masalah dengan teman, kesulitan dengan pelajaran, dan beban-beban lainnya. Dan semua yang saya alami di masa sekolah itu belum ada apa-apanya dibanding dengan semua yang telah dan sedang saya alami di dunia perkuliahan ini.

Ah, malu kalau saya lanjut. Mau bagaimana lagi, saya masih tergolong newbie menjalani kehidupan kuliah. Ini cuma sekedar tulisan galau anak yang baru pisah dari orangtua.

Lalai #hari-17

Dari #hari-9 langsung #hari-17?

Entah hanya saya atau mungkin ada manusia-manusia lain yang sejenis, tetapi pada suatu saat terjadi momen di mana sebuah tanggung jawab terdistraksi oleh tanggung jawab lain yang memiliki angka skala prioritas yang ‘kebetulan’ lebih tinggi.

Dan momen itu terjadi pada #hari-10 hingga #hari-16.

Secepatnya ketika serebrum ini bisa bekerja dengan lancar jaya tanpa hambatan, saya akan melengkapi hari-hari di mana saya absen menulis.

Salam.

Perjuangan #hari-9

Kalau kemarin saya beropini, hari ini boleh ‘kan saya bercerita? Hehe.

Dilihat dari judulnya, saya seakan-akan mau bercerita soal perjuangan pahlawan atau kisah heroik lainnya seperti cerita-cerita kebanyakan. Sayangnya bukan. Ini cerita perjuangan saya sendiri. Bagaimana saya bisa berada di sini, duduk manteng di depan laptop, sedang sibuk-sibuknya menggarap proposal untuk kegiatan PPSMB jurusan demi menyambut adik-adik tingkat saya nanti, sementara esok pagi pukul 6 saya sudah harus berada di kampus menjadi panitia acara pertandingan voli antar SMA/SMK, dan tugas-tugas saya yang lain sudah menunggu minta dituntaskan, dan yang paling terpenting: Bagaimana saya saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada?

Pada masa SMA dulu, ketahuilah saya sama sekali bukan murid yang tergolong pintar dan cerdas seperti yang teman-teman bayangkan. Apalagi berprestasi. Di kelas, baik kelas 10, 11, hingga 12, saya bukan murid yang langganan atau sering mendapatkan nilai ulangan di atas sembilan, karena saya menganggap nilai tujuh pun merupakan suatu prestasi luar biasa bagi saya. Bukan karena pelajarannya yang sulit, tapi memang saya yang bodoh.
Bisa dibilang saya murid IPA gadungan. Tidak satu pun pelajaran IPA yang bisa dikatakan saya kuasai, karena saya lemah pada keempatnya. Ditambah saya bukan anak yang punya sifat rajin. Sebagai pelengkap dari segala kelemahan yang saya punya, saya bukan orang yang punya banyak uang untuk sekadar membeli buku soal, apalagi mengikuti bimbel. Jadi semuanya saya perjuangkan sendiri bermodalkan otak yang super kopong ini, dan bisa teman-teman tebak sendiri hasilnya. Nilai mungkin nggak terlalu jeblok-jeblok amat, karena sepertinya terbantu dari pelajaran non-IPA lainnya. Tapi masalahnya, teman-teman saya adalah orang-orang yang luar biasa ambisinya untuk mengejar kampus impian mereka dengan segala kecerdasan yang mereka punya. Alhasil, kesempatan untuk bisa mengikuti SNMPTN pun saya tidak punya, lolos PDSS-nya pun tidak. Ya, saya masuk ke dalam golongan 25% murid dengan nilai terendah di sekolah.
Tapi rupanya, Allah justru mempermudah jalan saya dengan kegagalan itu. Tidak lebih dari 2 minggu, saya berhasil bangkit kembali dari keterpurukan menyesali nilai rapot saya yang membuat pupus kesempatan untuk ikut SNMPTN. Saya kembali menemukan semangat untuk mengejar ketertinggalan materi UN (yang hasilnya jangan ditanya karena mau mengingat pun saya enggan) dan tibalah masanya memperjuangkan SBMPTN. Karena saya murid IPA yang selama tiga tahun belajar IPA, saya terpaksa mengejar materi lintas jurusan alias IPS dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan dan lagi, tanpa bimbel
Di tengah-tengah masa perjuangan inilah, saya menemukan strategi untuk bisa mengejar skor SBMPTN, yaitu dengan memperkuat “kemahiran” saya mengerjakan soal TKPA yang jumlahnya lebih banyak dari materi SOSHUM itu sendiri. Jadi setidaknya saya bisa mendapatkan bonus nilai 30% jika saya bisa menjawab 45 soal TPA dengan lancar. Strategi ini saya dapatkan dari teman seperjuangan saya yang bernasib sama pada masa sekolah dan tidak bisa ikut SNMPTN karena nilai sama-sama kurang. Anyway, syukur alhamdulillah dia bisa mencapai mimpi terbesar sekaligus terbodohnya (Dia sendiri lho yang bilang) sejak kelas 10, yaitu masuk FSRD ITB.
Kurang lebih H-seminggu SBMPTN, saya mendapatkan rezeki luar biasa dari teman saya yang sudah berhasil lebih dulu mendapatkan bangku di Pendidikan Dokter Universitas Andalas melalui jalur SNMPTN. Sebelumnya dia sudah mengikuti bimbingan intensif di sebuah lembaga bimbel, dan kemudian jatahnya yang tersisa seminggu itu dihibahkan kepada saya. Dan selama seminggu yang tersisa itu pula saya mengejar materi SOSHUM yang selama ini tidak saya dapatkan dengan belajar sendiri.
Dan pada H-1 sebelum SBMPTN dilaksanakan, saya sengaja membebaskan diri saya dari segala yang berhubungan dengan belajar agar tidak stres, dan menggantinya dengan istirahat serta berdoa, termasuk menunaikan sholat hajat dan tahajud. Oh ya, H+5 SBMPTN saya juga mengikuti seleksi pada suatu universitas swasta yang kebetulan menyediakan beasiswa tidak mampu. Jadi setidaknya saya punya cadangan apabila SBMPTN pupus. Tidak lolos dua-duanya? Ya, ((tinggal)) gap year. Sejak awal saya memang sudah menyiapkan mental untuk melalui masa gap year dengan mengikuti SBMPTN tahun berikutnya jika saya tidak bisa berkuliah tahun ini. Namun siapa yang nggak deg-degan sih menunggu pengumuman SBMPTN? Sampai saya pun hampir melupakan hari “ketambahan umur” yang memang tanggalnya berdempetan sehari dengan hari pengumuman.
Saya masih ingat dengan detil gejolak perasaan apa saja yang saya alami selama detik-detik sebelum, saat, dan setelah membuka website pengumuman. Saya bahkan sudah bersiap dan yakin tidak akan menangis jika saya tidak lolos di salah satu dari tiga pilihan universitas, mungkin karena tempaan mental sejak dini untuk menghadapi masa gap year. Kenyataannya, saya menangis. Menangis saat mendapati tulisan “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2016 di : ILMU KOMUNIKASI, UNIVERSITAS GADJAH MADA” tertera di layar HP.
Kegigihan, keyakinan, dan kekuatan. Nilai itulah yang menjadi modal saya menempuh seluruh rangkaian perjuangan dari nol besar hingga saat ini, saat di mana saya belum tuntas menyelesaikan proposal yang harus diserahkan ke fakultas besok dan malah mengetik cerita ini karena capek. Asli, jadi mahasiswa, apalagi yang aktif berorganisasi itu capek.

Tapi saya tidak menyesal. Inilah yang saya cari: Pengalaman.

Intinya, pesan untuk teman-teman yang mungkin merasa bernasib sama, saya ingin kalian percaya keajaiban itu ada. Bukan keajaiban tanpa modal apapun kalian bisa lolos ke universitas yang kalian inginkan, tapi keajaiban kalian bisa bangkit dari keterpurukan karena tidak punya modal apa-apa. Sisanya, silakan tafsirkan sendiri tambahan moral dari kisah saya ini. Sekian, dan terima cinta.

Nikah Muda = Hindari Zina? #hari-8

Sesekali saya mau menulis opini. Jangan harap opini ini seperti esai yang memunculkan banyak data, sitasi, dan kata-kata yang berlevel tinggi seperti opini kebanyakan ya, hehe.

Sore tadi saya gabut, guling-guling di kasur kosan sambil nge-scroll timeline LINE. Lalu ada sebuah status yang cukup menarik menurut saya. Penulis status mengunggah sebuah foto hasil capture dari akun Instagram yang menulis tentang insiden…. pemerkosaan? Entah, tapi yang saya tangkap intinya sebuah insiden yang berujung pada perzinaan karena nafsu yang tidak terbendung. Ya, intinya seperti itu, lalu ada sebuah komentar yang kemudian menjadi fokus status LINE tersebut. Komentar seperti apa?

Kalau udah gini, keputusan gue masih salah ngga? (Begitu kira-kira bunyinya. Keputusan apa? Siapa yang komentar seperti ini?)

Sebut saja namanya Alvin (Namanya memang itu sih, hehe). Cukup terkenal di media sosial karena Alvin ini merupakan seorang anak Ustad terkenal di Indonesia, dan pernikahannya yang waktu itu sempat menjadi kontroversi karena pada saat itu baik Alvin masih berumur 17 tahun.

/deep sigh/

Umur segitu sih saya lagi pusing-pusingnya belajar buat Ujian Nasional dan mempersiapkan SBMPTN. Tapi setidaknya lebih baik daripada pusing mempersiapkan pernikaha. Di. Umur. Tujuh. Belas. Tahun.

Kurang tahu juga, apakah istri dari Alvin seusia dengannya, tapi sepertinya sih iya. Tolong beritahu kalau saya salah ya, hehe.

Mengapa pernikahan dini ini jadi kontroversi? Sebuah sumber berita menyebutkan, viralnya pernikahan Alvin dan istri yang tidak biasa ini memicu para kawula muda yang bahkan belum berkepala-dua jadi ingin menikah muda juga. Yang paling penting, dari kontroversi ini jugalah yang (mungkin) membuat bermunculan kampanye-kampanye, yang intinya, mengajak para remaja untuk menikah muda demi menghindari zina. Sebenarnya pernikahan Alvin dan istri ini memang sudah lama terjadi dan sudah jarang dibicarakan banyak orang lagi, tetapi kampanye menikah muda ini masih terus berjalan, hingga sekarang.

Tidak, saya tidak mau menyalahkan atau mengomentari keputusan Alvin untuk menikah di usia belia. Ya itu sih terserah dia, karena saya yakin Alvin dan istri sudah punya pemikiran dan perencanaan yang matang, ditambah kesiapannya secara mental, fisik, dan finansial untuk memulai kehidupan rumah tangga, dan yang paling penting, restu dari kedua orangtua mereka. Lagipula, kalau melihat-lihat foto pernikahan mereka, keduanya serasi kok, hehe. Serius.

Yang mau saya permasalahkan adalah kampanye-kampanye menikah muda yang cukup galak di antara anak-anak remaja ini. Jujur, saya sempat bingung dan penasaran setengah mati, kenapa bisa-bisanya sesuatu yang terhitung sakral, tidak boleh dianggap main-main, dan harus direncanakan secara matang karena memiliki pengaruh yang cukup besar pada masa depan mereka yang melakukannya– tiba-tiba jadi fenomenal untuk dilaksanakan di usia muda? Ya Tuhan, ini pernikahan!

Usut punya usut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya. Menikah muda demi menghindari zina.

Mungkin para pengkampanye menikah muda ini khawatir dengan maraknya pergaulan yang tidak pantas dan seks bebas di antara para remaja. Ya, saya juga khawatir kok. Apalagi pengaruh dari budaya barat dan negara lain yang memang tidak sesuai dengan syari’at Islam mulai dijadikan patokan lifestyle-goals oleh anak-anak muda, dan membuat mereka tidak bisa menahan hawa nafsu mereka. Dan… BOOM.

Ya, gitu. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana para remaja yang terpengaruh oleh kampanya menikah-muda-supaya-tidak-berzina ini merengek-rengek pada orangtuanya supaya diberi restu untuk menikah dini, sebelas-duabelas seperti merengek minta dibelikan smartphone. Semoga tidak ada kejadian seperti ini.

Tapi, apakah sebuah pernikahan dilaksanakan semata atas dasar supaya bisa ena-ena tanpa harus terkena dosa? Sesederhana itu?

Sebenarnya saya tidak mau banyak bicara bagaimana membantah semua kampanye-kampanye sejenis ini, karena menurut saya, sabda Rasulullah saw. berikut ini seharusnya sudah cukup menjawab tentang urgensi dari pernikahan dini yang sedang fenomenal ini.

“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya harus tekankan di sini, pernikahan menurut hukum Islam pun bukan sesuatu yang bersifat Wajib, tetapi Sunnah. Ia tidak akan menimbulkan dosa jika tidak dilakukan, dengan catatan, selama mereka yang tidak melakukannya tidak berbuat zina.

Pernikahan bukan sesuatu yang hanya dilandaskan atas keinginan dan kebutuhan untuk bersetubuh. Banyaaaak sekali hal yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum menikah. Bagaimana kelanjutan hidup setelah menikah? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga? Siapkah mereka sebenarnya untuk menikah secara mental dan fisik, serta restu orangtua?

Yuk, kita balik pertanyaannya. Kalau belum siap, bagaimana?

Berpuasalah. Mari tunggu hingga kamu benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan sembari menunggu kamu siap dan calonmu siap. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mengambil kursus, bekerja, mengikuti kegiatan sosial, masih banyak lagi kegiatan berkualitas yang pastinya akan meningkatkan kualitas pribadimu dan akan sangat berguna untuk diimplementasikan di kehidupan pasca menikah nanti.

Tidak usah terburu-buru, jodohmu sudah ada yang mengatur kok.