Selamat Jalan, Nnin Tersayang…

Tak ada yang abadi.

Pepatah itu benar sih, gak ada yang kekal di dunia ini. Sesempurna apapun mereka, pasti kembali juga pada-Nya. Terus terang, di antara kita, termasuk aku, terkadang di dalam hati nggak bisa mengakui kenyataan itu.

Itu dulu! Sekarang aku benar-benar merasakan arti dari pepatah itu. Kejadiannya hari Selasa, 22 Januari 2013. Sebelumnya aku mau cerita sesuatu.

Aku punya nenek dari ibu. Aku sih biasa memanggil nenek dengan sebutan “Nin”, “Enin”, “Nnin”, dsb. Seumur hidupku, Nnin tinggal bersama cucuny, kakak sepupuku, yang sudah Nnin anggap anaknya sendiri di rumah yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Jadi aku sering bermain ke rumahnya sama Ibu, atau nggak jarang Nnin yang main ke rumah. Walaupun umur Nnin udah sekitar 70 tahun lebih, alhamdulillah beliau masih kuat berjalan sendiri tanpa bantuan. Tapi, waktu bulan Ramadhan 2012 lalu, Nnin dibawa kakak tertua Ibu (aku memanggil beliau Uwak) ke Cileungsi. Sedih sih. Tapi kata Ibu, “Gak usah sedih. Sekali-sekali kita bisa ke sana main ke rumah Nnin.”

Soal kedekatan aku sama Nnin, lebih dari sekadar dekat deh. Nnin suka cerita-cerita tentang masa lalunya, kelakuan salah satu cucunya yang terkadang bikin Nnin kesal, dan masih banyak lagi. Terkadang beliau suka memberikan “ceramah” padaku. Terkadang gaya bicara Nnin suka bikin aku ketawa. Nnin itu udah jadi teman bercanda aku. Nnin juga sering kasih uang jajan, hehe. Pokoknya aku sama Nnin dekeeeet banget, kurang lebih kayak ibu-anak lah. Terlalu berlebihan? Tapi memang begitulah kenyataannya. Nnin juga sayang sama cucu-cucunya yang lain. Jadi, bukan aku aja yang suka dikasih uang jajan, haha. Mereka juga sering bercanda-canda sama Nnin.

Terakhir aku dekat sama Nnin itu waktu liburan tahun baru 2013 kemarin. Nnin menginap di rumah (Bekasi) sekitar seminggu lamanya. Lalu beliau pulang ke Cileungsi. Seminggu kemudian aku sama keluarga ke Cileungsi buat ngerayain tahun baru. Sayangnya keluarga di sana waktu itu nggak lengkap, maksudnya nggak semua keluarga anak-anak Nnin ke Cileungsi. Sedih sih, terutama Nnin yang (mungkin) kecewa karena nggak semua keluarga anak-anaknya datang berkumpul di Cileungsi. Apalagi aku sekeluarga di sana nggak lama cuma semalam atau 2 malam. Karena abang juga harus kuliah tanggal 2/1. Ayah juga harus kerja.

Sampai waktu hari Kamis, 17 Januari 2013 lalu, Ibu ditelepon Uwak yang tinggal bersama Nnin di Cileungsi. Katanya Nnin sakit. Mungkin karena lagi musim hujan, terus Nnin sempat kehujanan, kalau gak salah begitu yang aku tau. Ibu langsung ke Cileungsi sama abangku buat mengurus Nnin.

Keesokan harinya, Ibu telepon. Katanya Nnin harus dirawat di rumah sakit. Aku sempat kaget dan bingung, Kok sampai harus dirawat di RS segala? Dan katanya, Nnin sesak nafas. Akhirnya diputuskan Nnin dirawat di RS di Bekasi, supaya Ibu gampang buat bolak-balik dari rumah ke RS mengurus Nnin. Aku mau menjenguk Nnin, tapi belum diizinkan sama Ibu. Sempat sedih sih gak bisa ketemu Nnin. Lalu aku dapat kabar, Nnin harus masuk ke ICU. Aku takuuuut banget ada apa-apa sama Nnin. Dalam hati aku berdoa terus. Terus kata Ibu, harapan hidup Nnin membesar. Aku seneng banget. Bahkan, aku sekeluarga berencana supaya Nnin tinggal buat sementara dulu di rumah kami, sampai Nnin benar-benar sehat.

Lalu, hari Seninnya, aku dibolehin jenguk Nnin di ICU. Sedih banget melihat keadaan Nnin di ICU. Nnin belum sadar waktu itu. Aku nangis, akhirnya aku keluar ICU karena gak enak nangis di ICU diperhatiin dokter-dokter di sana. Malamnya aku pulang ke rumah, karena ada tugas sekolah banyak yang belum dikerjain. Ibu juga pulang ke rumah karena meriang, mungkin kecapekan karena kurang tidur. Akhirnya Uwak yang jaga Nnin di rumah sakit.

Besok paginya, hari Selasa, 22 Januari 2013, aku bangun. Aku liat jam, ternyata udah jam 05.30. Terus aku kaget pas tau Ibu nangis-nangis, di sebelahnya juga ada Ayah yang menenangkan Ibu. Aku tanya ke Ayah, kenapa Ibu nangis? Dan Ayah bilang, Nnin udah gak ada. Aku langsung nangis dan meluk Ibu. Sebenarnya waktu itu aku belum bisa percaya Nnin udah gak ada. Susah banget mempercayainya.

Sementara Ibu sama Abang ke RS dan tetangga-tetangga datang bantu beres-beres rumah buat “menyambut” jenazah Nnin, aku cuma bisa duduk diam di kamar. Mungkin logika aku lagi berantakan, antara percaya atau gak percaya Nnin memang udah pergi.

Lalu, ambulans pembawa jenazah Nnin datang. Di situ aku deg-degan banget, belum siap menerima kenyataan kalau Nnin benar-benar udah gak ada. Dan aku langsung nangis waktu ngeliat Nnin yang udah kaku. Logika aku udah jalan dan meyakinkan aku akan kenyataan itu. Kakak sepupu yang sudah kuceritakan sebelumnya Nnin sudah menganggapnya anak sendiri, datang dan menangis kencang, sempat memecah keheningan di sana. Alhasil, air mata aku yang tadinya udah kering, mengalir lagi.

Aku ikut sholat jenazah dan ikut mengantar Nnin ke pemakaman. Selama pemakaman aku nggak bisa berhenti nangis, termasuk Ibu dan dua sepupu aku yang juga gak bisa berhenti nangis.

Kau ambil juga Nnin dari kehidupan kami, Ya Allah. Sebelum kami bisa membahagiakan Nnin, sebelum aku bisa membanggakan prestasiku yang bisa membuat Nnin tersenyum, sebelum Nnin bisa menjejakkan kedua kakinya di tanah suci, sebelum Nnin bahagia bisa berkumpul dengan segenap keluarga besarnya, Nnin telah pergi menghadap-Mu. Kami amat sangat kehilangan beliau, karena kami semua sayang Nnin. Kami hanya bisa berdoa kepada-Mu, memohon kepada-Mu, terimalah beliau di sisi terbaik-Mu, Ya Allah. Amin.

Selamat jalan, Nnin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s