I Love You, You Love Her, She Loves You too

Senyum itu…

DEG!

Bunyi apa itu? Kutolehkan kepalaku, mencari asal suara itu. Tidak ada benda yang terjatuh, dan tidak ada siapapun di sini. Kecuali aku sendiri… dan kau.

Yang sedang tersenyum.

Yang sedang menatap lekat mataku.

“Terima kasih,” ucapmu. Apa? Dia mengucapkan terima kasih? Padaku? Tapi untuk apa? Uh, aku pun tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelumnya, sampai kau mengucapkan dua kata itu. Aku hanya bisa membayangkan senyum dan tatapan itu. Ya Tuhan, mengapa aku baru sadar mereka begitu indah?

Terima kasih kembali.

Terima kasih telah mewarnai tujuh hariku.

Terima kasih telah membuatku terus tersenyum.

Terima kasih telah menghapus air mataku akhir-akhir ini.

Tapi semua itu hanya sesaat, setelah aku melihat semuanya, kenyataan pahit itu. Sejak aku melihat kamu selalu dengannya, tersenyum bersamanya, menatap matanya dengan penuh arti.

Tatapan itu berbeda dengan yang kau tujukan padaku.

Hei, palingkanlah matamu! Lihatlah aku di sini! Aku yang setia menunggumu, aku yang sekuat tenaga menahan rebakan air mata ini. Demi kau— yang kenyataannya tak pernah untukku, selalu bahagia tanpaku.

Terima kasih telah mengembalikan kehidupan awalku.

Terima kasih untuk semuanya.

Terima kasih.

21 Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s