Sehari Tanpa Internet? Dunia Belum Kiamat Kok!

lalTOL

Internet (kependekan dari interconnection-networking) adalah seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar sistem global Transmission Control Protocol/Internet Protocol Suite (TCP/IP) sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia (Sumber: Wikipedia).

Sebenarnya tanpa harus saya beri tahu pun, Anda pasti sudah tahu apa itu internet. Siapa yang tidak tahu internet? Internet yang telah menghubungkan seluruh orang (baca: pengguna internet) di seluruh dunia, “mendekatkan” mereka, termasuk saya dan Anda yang berjauhan, memudahkan mereka berbagi informasi hanya dengan satu klik, dan masih sangat banyak lagi peranan internet di kehidupan ini. Entah butuh berapa tahun untuk menyebutkan seluruh peranan-peranan internet ini.

Berlebihan? Maaf.

Saya sendiri, termasuk pengguna internet yang cukup aktif. Bahkan, mungkin julukan “pecandu internet” sudah pas melekat pada saya. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari, sedikitnya satu jam, saya duduk tenang di depan laptop untuk berselancar. Di laut? Bukan. Berselancar di dunia maya tentunya, alias internet. Apa yang saya lakukan? Entah, sekedar membuka akut social media, mencari berbagai informasi, hiburan dan lainnya. Saya benar-benar mulai menganut paham “internet untuk segala aspek kehidupan”. Sebab hampir 75% keperluan dan tugas sekolah mengharuskan saya untuk terhubung dengan internet. Itu baru untuk keperluan sekolah. Bagaimana dengan yang lainnya?

Dan kemudian, pada pukul 19.07 ini, saya baru mengetahui sebuah informasi, tentang blog competition yang diadakan sebuah operator telekomunikasi seluler dengan tema “Sehari Tanpa Internet”. Kompetisi tersebut mengharuskan pesertanya untuk bercerita, apa yang terjadi kalau sehari saja kita tidak mendapatkan koneksi Internet?

Seketika pertanyaan itu mengganggu pikiran saya, terus terngiang-ngiang di telinga. Apa yang terjadi kalau sehari saja kita tidak mendapatkan koneksi internet? Apa yang terjadi kalau tidak ada internet? Apa yang…

Anda tahu, apa yang ada di pikiran saya saat ini? Stres, panik, dunia kiamat, dunia kiamat, dunia ini berakhir… Tidak, saya tidak sebuta itu, tentu saja. Saya realis, karena otak saya terbagi dua seperti yang Tuhan anugerahkan kepada hamba-hamba lainnya: “otak kiri” yang mendukung logika, analisa berpikir, rasionalitas, apa adanya; dan “otak kanan” yang mendukung seni, intuisi, kreativitas, dan tidak jarang memuat saya tenggelam dalam fantasi.

Biarkan saya berfantasi, membiarkan sang “otak kanan” membisikkan keluh kesah mereka kepada hati saya. Apa yang terjadi kalau sehari saja kita tidak mendapatkan koneksi internet?

Akses internet sudah menjadi hal yang bahkan tidak pantas lagi dikategorikan ke dalam “kebutuhan tersier”, yaitu kebutuhan mewah, yang sekadar memuaskan hasrat akan hiburan. Internet bahkan tertingkatkan derajatnya hingga saat ini setara dengan kebutuhan makan-minum, pakaian, rumah dan istirahat. Ekstrim bukan?

Lalu bagaimana jadinya kalau saya tidak mendapat koneksi internet? Masih sanggup hidupkan saya? Lalu bagaimana dengan nasib tugas sekolah dan mood saya yang butuh hiburan? Bagaimana kalau saya sampai tidak bisa mengecek informasi terbaru dari social media? Bagaimana kalau saya tidak bisa mengungkapkan keluh kesah pada semua orang seperti taman-teman pada umumnya? Semua orang harus tahu!

Cukup otak kanan! /menutup rapat-rapat pintu hati supaya tidak dijebol “otak kanan”.

Sekarang, biarkan “otak kiri” saya mencurahkan aspirasi logisnya. Apa yang terjadi kalau sehari saja kita tidak mendapatkan koneksi internet?

Memang kenapa sih kalau tidak ada internet? Apakah saya akan mati? Memang “jadwal” mati saya ditentukan oleh ada tidaknya koneksi internet?

Internet hanyalah (hanya?) sarana untuk mempertemukan orang-orang jauh di satu tempat! Tidak bertemu langsung pula kan? Pembicaraan kalian hanya diwakilkan oleh sederet teks dan foto-foto yang tidak real! Itulah mengapa seringkali internet disebut sebagai “dunia maya”.

Dengan terputusnya hubungan saya dengan internet, menjadi ajang bagi saya untuk berbaur dengan kehidupan sebenarnya. Kalau selama ini saya hanya duduk manteng di depan laptop, sekarang saya bisa membantu Mama membersihkan rumah, mengobrol dengan orang lain, dan masih banyak lagi. Ain’t it fun living in the real world?

Kesimpulannya, saya tidak mau menganggap internet adalah segala-galanya. Hidup saya yang sebenarnya adalah lingkungan sekitar, bukan internet. Jadi, saya tidak mau menggantungkan hidup pada internet. Lalu, kalau internet terputus, apa yang kamu lakukan? Hei, memang hidup ini cuma menatap layar gadget-kah? Lalu, apa yang ada di sekitarmu? Mereka bukan hidup, begitukah? Begitu banyak yang bisa kita kerjakan tanpa internet, bahkan lebih bervariasi dan bermanfaat. Coba pikirkan saja, lebih bermanfaat mana: membantu orang tua dengan menggesek-gesekkan jari di atas layar?

 

 

*niatnya tulisan ini mau saya ikutkan pada kompetisi blog yang diadakan salah satu operator telekomunikasi seluler dengan tema “Sehari Tanpa Internet”, tapi ternyata saya tidak bisa memenuhi salah satu syarat mengikuti lomba, yaitu memiliki ID AGEN apalah itu, saya juga tidak mengerti. Ya sudah, dengan pasrah saya jadikan tulisan ini untuk hiasan di blog, hehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s