Cerpen: Anna

P.S.: Ini cerita pendek fiksi pertama yang berhasil gue buat sampe finish! Yeaa, dari dulu gue paling nggak bisa kalau harus bikin cerita pendek, karena gue suka bingung gimana mau bikin finishingnya, tau-tau udah puluhan halaman aja, gagal deh -…- Dan cerita ini pun gue buat untuk lomba Cerita Islami KOMPILASI di sekolah, dan ngga terduga, menang!!!!! Juara III sih, tapi tetep aja nggak nyangka “cerita buluk begini kenapa bisa menang dah” wkwk. Pokoknya enjoylah!

^^^

Para pelayat sudah pergi meninggalkan makam sejak setengah jam yang lalu, hingga hanya tersisa satu orang yang masih berdiri diam di situ. Anna menunduk, menatap lurus gundukan tanah basah bekas hujan yang baru saja mengubur jasad orang yang terpenting di hidupnya, yang sejak dulu Anna pikir ia tidak akan bisa hidup tanpanya.
Belum tuntas masalahku dengan Lisa, kenapa sekarang Mama yang harus pergi?

Sungguh, Anna tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya setelah ia meninggalkan makam. Sejak dulu Anna berprinsip, ia hidup untuk membahagiakan Mama seorang. Mama yang telah melahirkannya ke dunia dan merawatnya seorang diri—hingga kemarin malam. Setelah Mama menghembuskan nafas terakhirnya, untuk siapa lagi Anna berjuang? Untuk siapa lagi Anna hidup?

***

Tiga hari setelah Mama pergi.

Hari ini hari pertama Anna masuk sekolah setelah harinya terpuruk itu. Setibanya di kelas, ia mendapati teman-temannya sibuk berkutat dengan buku Agama masing-masing. Ada ulangankah? Anna tersenyum kecut. Ia sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk ulangan yang tak diketahuinya ini.

Ketika Anna sampai di bangkunya, ia melihat Lisa sedang duduk di bangku sebelahnya. Gadis itu sibuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dari buku cetak yang tampaknya akan menjadi materi ulangan nanti. Tiba-tiba Lisa menoleh dan sejenak tatapan mereka bertemu. Anna membeku di tempat, sementara Lisa melengos dan memalingkan wajah ke buku di hadapannya.

Sudah setengah jam ulangan dilaksanakan. Namun Anna hanya menatap kosong kertas soal di hadapannya. Ia melirik Lisa yang sibuk mengerjakan soal. Kertas jawabannya sudah hampir penuh. Sebuah ide tiba-tiba melintas begitu saja di otaknya yang sudah nyaris lumpuh. Tanpa sadar Anna mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Lisa, lebih tepatnya mendekat ke kertas jawabannya. Tulisan rapi Lisa mulai terbaca oleh matanya.

Tepat pada saat Anna menyadari perbuatannya, Lisa juga sedang menoleh ke arahnya. Kedua matanya melebar, sementara Anna tergagap. “A-aku…”

“Kamu mau mencontek, ya?” seru Lisa tidak senang. Anna bisa merasakan berpasang-pasang mata yang terarah padanya, efek volume suara Lisa yang menggema di kelas yang hening itu. Lama Anna membeku di tempat, hingga Pak Rasyid sudah berdiri di samping meja mereka dan mengambil kertas milik Anna.

“Ikut Bapak sekarang,” perintah Pak Rasyid dengan suara rendah yang mampu menciutkan nyali siapa saja yang mendengar, terutama Anna sendiri. Anna berdiri dan melangkah gamang ke luar kelas mengikuti Pak Rasyid. Hatinya bergemuruh. Ia tidak menyangka Lisa ternyata semarah ini padanya.

Anna sangat sadar, perbuatannya tadi memang salah. Sejak dulu ia menanamkan prinsip itu di bawah sadarnya. Prinsipnya itulah yang menjadi akar permasalahannya dengan Lisa. Berbuat curang itu dosa. Anna masih ingat persis kata-kata Mama saat pertama kali mengajarinya untuk jujur.

Mama.

Seluruh tubuhnya gemetar, ketika ia tersadarkan kembali oleh kenyataan pahit itu. Rahang Anna mengatup kuat-kuat, menahan isakannya yang sudah berada di tenggorokan melompat keluar, namun usahanya gagal. Air matanya mengalir lagi, kali ini Anna tidak berusaha mencegahnya.

Aku tidak kuat, Ma. Aku tidak kuat.

***

Anna berdiri menatap gapura besar di hadapannya. Gapura gerbang pemakaman umum, tempat ia bisa mengunjungi Mama lagi sekarang.

Ia sadar, datang ke tempat ini malah akan membuat luka lamanya terbuka kembali. Malah semakin menyulitkannya untuk mengikhlaskan kepergian Mama. Dan perbuatan seperti itu jelas-jelas adalah dosa, karena bagaimanpun Mama juga salah satu dari milyaran ciptaan Allah swt., yang suatu saat harus kembali lagi pada-Nya. Tapi masalahnya, Anna benar-benar tidak lagi tahu siapa dirinya sekarang tanpa Mama. Tanpa Mama, Anna merasa lemah, merasa kosong, merasa bagaikan anggrek yang kehilangan pohon inangnya, yang tanpanya anggrek tidak bisa lagi bertahan hidup dan kemudian mati.

Dan ketika ia berdiri lagi di hadapan makam untuk kesekian kalinya, tikaman tepat di hatinya membuat Anna benar-benar yakin, kelemahannya saat ini cepat atau lambat akan membuatnya tidak lagi bisa bertahan lebih lama lagi. Dan dengan begitu, ia bisa menyusul Mama. Lagi pula—Anna tersenyum perih—ia tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Jadi untuk siapa lagi dia hidup sekarang?

Anna berbalik pergi dari makam, menyusuri areal pemakaman dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Lama Anna terus melangkahkan kakinya tanpa arah pasti, hingga ia merasakan kakinya mulai pegal karena terus berjalan. Ia berhenti berjalan dan terpaku ketika mendapati dirinya sedang bersandar pada pagar pengaman jembatan. Anna berbalik dan menunduk, menatap lurus permukaan sungai besar yang mengalir cukup deras di bawahnya. Di musim hujan begini, air sungai itu pasti dingin sekali. Kalau saja Anna terjatuh ke dalamnya, ia pasti akan hanyut dan mati beku, dan ia tidak akan lagi merasakan bagaimana menjadi orang lemah di tengah kehidupan yang keras tanpa Mama. Ya, ia hanya perlu jatuh, dan semua akan selesai.

Aku pulang, Ma.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik Anna dengan kasar menjauhi pagar jembatan. Belum sepenuhnya Anna tersadar, kemudian ia merasakan tubuh besar yang mendekapnya erat sambil mengucapkan takbir dan istighfar berkali-kali. Tante Dina.

Tante Dina melepas pelukannya dan Anna bisa melihat berbagai macam gejolak emosi yang terpancar dari kedua mata yang menatapnya. Kemudian ia mendengar Tante Dina berkata, “Seberat apapun masalah yang kamu hadapi, bunuh diri bukan jalan terbaik untuk menuntaskan semuanya, Anna. Istighfar! Bunuh diri itu dosa besar yang tidak akan diampuni Allah, Anna!”

Anna masih terdiam. Pikirannya berkecamuk, bahkan ia sendiri tidak bisa memilah apa-apa saja yang bergemuruh di kepalanya saat ini. Tapi ada satu hal yang melekat erat di otak Anna sampai saat ini, satu hal yang membuat gadis itu nyaris membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.

Detik itu Anna kembali menumpahkan air matanya, kali ini bersama seluruh beban yang selama ini menghimpit dadanya. “Anna tidak bisa lagi hidup sendiri tanpa Mama. Anna tidak tahu untuk apa dan siapa Anna hidup setelah Mama pergi. Lebih dari semua itu, Anna hancur, Tante.” Tante Dina membiarkan keponakannya meraung-raung di dekapannya selama beberapa saat.

“Kita semua tidak pernah sendiri di dunia ini, Anna. Innallaaha ma’ana. Allah selalu bersama kita. Kita memang lemah. Lemah di hadapan-Nya. Tapi Yang Mahabesar selalu menguatkan hamba-hambanya yang bertakwa.”
Anna tercekat. Suara Tante Dina begitu lirih bagaikan hembusan angin. Namun Anna bisa mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan segenap hatinya damai. Damai karena Tante Dina. Damai karena ia tahu, meskipun tanpa Mama, ia akan selalu kuat selama bersama Allah ta’ala.

Laa tahinu qawilillaahi ta’ala. Laa tahzanu innallaaha ma’ana.

21 Januari 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s