#10

Anak adalah masa depan. Kita percaya bahwa Tuhan adalah Yang Maha Menetapkan, namun sayangnya para orang tua seringkali mengabaikan kenyataan bahwa masa depan itu bukanlah mereka yang menetapkan. Bukan mereka yang memutuskan akan menjadi apa dan siapa anak menjadi. Walaupun mereka bersamamu, tetapi bukan milikmu. Curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiran, karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. Begitulah gambaran yang diberikan Kahlil Gibran mengenai anak.

Pada masanya, bermain adalah dunianya. Sayangnya masih banyak orang yang menganggap bermain membuat anak menjadi pemalas. Sebaliknya, anak tumbuh, berkembang dan menemukan pintu masa depannya dengan bermain. Yang perlu diperhatikan di sini adalah apa yang diperlukan untuk menjadi landasan tempat mereka berjalan: pendidikan, pangan dan kesehatan; pagar untuk tempat mereka berpegangan: identitas; serta atap untuk melindungi mereka.

Namun tidak semua anak yang menjadi tumpuan harapan kita terhadap masa depan merasakan kehidupan yang layak saat ini. Ironis, kekerasan, pemaksaan, dan diskriminasi terhadap anak bahkan bukan lagi hal yang terdengar tak umum di telinga kita. Bagaimana bisa kita membiarkan buah-buah harapan masa depan kita sendiri terkoyak hancur? Bagaimana bisa kita setega itu?

 

030816

Widasari, Ilmu Komunikasi UGM 2016

Advertisements

One thought on “#10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s