Cikarac(l)ak?

Blog saya ini mungkin bukan blog yang banyak dibuka dan dibaca isinya oleh banyak orang, karena supaya ada yang membuka pun saya harus memaksa segelintir orang untuk melakukannya.

“Eh, buka blog gua dong.”

“Oh, lu punya blog? Coba mana link-nya, tapi buka punya gua juga ya.”

Atau kalau beruntung ada yang bertanya,

“Kamu punya blog, Wid? Mau baca dong.”

Dan yang bertanya pun cuma satu anak, salah satu teman saya di kampus. Makanya pakai bahasa ‘aku-kamu’. Terus terang saya nggak berharap banyak orang yang bakal baca tulisan mengenai random-thoughts alias nggak jelas di blog. Jadi, ya, saya nge-post, ya diam-diam aja. Kalau ada yang buka, ya Alhamdulillah, kalau nggak, ya Alhamdulillah wa syukurillah. Jadi, kegiatan pemaksaan yang saya ungkapkan di awal sebenarnya cuma supaya blog ini nggak berdebu-debu amat, karena saya sendiri jarang sekali membuka.

Terus, apa yang mau saya ceritakan dari judul post ini?

Sebanyak 9 dari 10 pembaca blog ini (data tidak valid, sok-sokan doang) pasti menyampaikan satu pertanyaan pada saya perihal alamat blog ini. Alamat blog pakai nama sendiri? Sudah biasa, sebelumnya saya juga pakai nama kok, seperti widasr[dot]wordpress[dot]com. Pakai kata atau frasa semacam randomthoughts[dot]wordpress[dot], mythink[dot]wordpress[dot]com, atau [insert-your-quote-or-some-unique-phrase-here][dot]wordpress[dot]com, itu sih juga sudah biasa. Nah, cikaraclak? Apaan tuh?

Sudah pernah saya tuliskan di sini mengenai siapa saya, lahir tahun berapa, dan apa-apa yang sebenarnya nggak penting diketahui tentang saya, tapi mungkin saya belum pernah bercerita tentang darimana daerah saya berasal sebenarnya. Saya memang lahir dan besar di Kota Bekasi (yang katanya lebih cocok disebut dengan planet Bekasi), tapi kedua orangtua saya merupakan pendatang di kota metropolitan ini. Ayah berasal dari Lampung, dan Ibu berasal dari Ciamis yang notabene menggunakan Bahasa Sunda. Sebagian besar keluarga Ibu saya tinggal di sekitar Bogor-Bekasi-Jakarta, termasuk almarhumah Nenek saya yang sejak sebelum saya lahir sudah tinggal di Bekasi berdekatan dengan rumah saya. Beliau-beliau ini masih sering berkomunikasi dengan Bahasa Sunda, jadilah saya lumayan mengerti dan agak bisa berbahasa Sunda juga.

Almarhumah Nenek saya paling doyan bercerita apa saja, mulai dari kehidupannya masa muda, kisah tentang anak-anaknya termasuk Ibu saya yang- jujur saya sendiri mengakui amat sangat unik dan membuat geleng-geleng kepala, mungkin nggak pernah dan akan terjadi di keluarga lain, ceritanya yang didapatkan dari orang lain- entah itu tetangganya yang sering berkunjung, tukang sayur, dan siapa saja yang ditemuinya, karena Nenek saya memang tipikal orang yang super ramah dan mudah akrab dengan siapa saja, hingga cerita tradisional Sunda dan Padang. Nenek memang bukan urang Sunda asli, beliau lahir dan besar di Padang, serta berasal dari keluarga yang berdarah Padang, namun kemudian menikah dengan Kakek yang merupakan orang Ciamis asli dan kemudian ikut hidup di daerah Ciamis.

Sebelum tulisan ini malah melantur ke kisah Nenek, saya mau memfokuskan lagi tentang darimana istilah cikaraclak ini berasal. Intinya, Nenek yang suka bercerita pernah menceritakan suatu dongeng tentang anak pondokan alias santri yang buodona minta ampun. Nggak bisa mengaji, paham materi tentang agama pun nggak, otomatis dia jadi penghuni ‘abadi’ di pondokan itu. Hingga akhirnya, karena malu sama teman-temannya yang sudah lama lulus meninggalkan pondokan tersebut dan adik-adik kelasnya yang juga lulus lebih dulu, ia pun bertekad minggat dari pondokannya ini. Di tengah perjalanan, si santri buodo ini berhenti untuk beristirahat. Lalu, samar-samar ia mendengar suara ‘clak-clak-clak’ yang tidak asing. Penasaran, santri ini pergi ke sumber suara dan mendapati seonggok batu besar yang berlubang di tengahnya, seakan lubang tersebut tercipta karena air yang terus-terusan menetes ke atasnya- kata Nenek, air yang menetes ini sering disebut cikaracak. Nggak yakin memang benar atau cuma unsur pamohalan dalam dongeng ini, santri ini akhirnya mendapat pencerahan, bahwa batu yang sedemikian kerasnya saja bisa luluh oleh cikaracak atau air yang menetes terus-menerus. Akhirnya ia memutuskan kembali ke pondoknya, dan berjuang keras belajar hingga akhirnya santri buodo ini bisa lulus dan membuka pondok pesantrennya sendiri.

Filosofi cikaracak inilah yang menarik untuk dijadikan motivasi hidup. Ditambah lagi, tiga tahun setelah kepergian Nenek saya untuk kembali ke pangkuan-Nya, tepatnya saat saya duduk di bangku kelas 2 SMA, saya kembali menemui cerita serupa dalam buku pelajaran Bahasa Sunda. Jadilah istilah cikaracak ini jadi terus menyangkut di pikiran saya.

Terus, kenapa berubah menjadi cikaraclak?

Waktu saya mau men-setting blog ini dengan alamat cikaracak[dot]wordpress[dot]com, ternyata alamat blognya sudah dipakai duluan sama orang lain. Jadi saya mengakalinya dengan cikaraclak dengan tambahan ‘l’ di tengahnya, seolah menekankan suara cikaracak atau air yang menetes itu berbunyi ‘clak-clak-clak‘.

Nggak penting banget ya. Ya sudah, siapa suruh baca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s