#Sapi

Ada seekor sapi di sawah. Ia menarik bajak sepanjang lahan. Petani berdiri di atasnya, sambil menarik dua tali pengekang yang terikat pada leher agar sapi tetap sesuai pada jalurnya. Setelah seluruh tanah gembur, barulah sapi itu dilepas, dimandikan, diberi pakan, dan masuk ke dalam kandang, tidur. Kalau ia bunting, sapi akan mendapat jatah ‘libur’. Ia bebas tidur, ataupun bebas lepas di tanah lapang. Meskipun tidak bekerja, petani masih sayang padanya.

Di seberang sawah ada rumah. Besar dan mewah. Sepertinya kehidupan di dalamnya nyaman sekali. Pikirmu, adakah yang merasa tidak nyaman? Ada.

Ia bisa lelaki, bisa perempuan. Bisa anak-anak, bisa dewasa, bahkan yang sudah renta sekalipun. Pakaiannya lusuh, wajahnya kusam dan lelah. Padahal ia tidak membajak sawah, ‘hanya’ melayani sang tuan. Tuan ingin makan, ia masakkan. Tuan ingin pergi, ia payungi. Tuan ingin sesuatu, ia lakukan. Aturan mainnya, ia tidur setelah tuan terlelap, dan bangun sebelum tuan terjaga. Intinya, tuan berkata, ia harus lakukan. Belum tentu ia diberi makan, apalagi disayang.

Ironis, ya?

Padahal manusia bukan sapi. Ia manusia, sama sepertimu, Tuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s