#Cincin

“Aku mencintaimu,” ujar lelaki itu padaku, sambil memegang kedua tanganku di lapangan rumput, suatu hari. Aku tersenyum sumringah dan balas menggenggam tangannya, dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Persis seperti orang yang jatuh cinta, menurut novel-novel roman itu. Matanya menyiratkan kesungguhan dan kejujuran, maka aku percaya.

“Aku mencintaimu,” ujarnya, lagi, sambil menyodorkan permen kapas besar berwarna merah muda padaku, di sebuah taman bermain, beberapa hari kemudian. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa tersenyum, menunduk, tidak bisa menahan perasaan senang yang membuncah di hati, seraya membatin, kelak kami akan terus bersama.

“….”

Senyap, tidak ada yang bersuara. Baik aku dan lelaki itu, kami sama-sama diam. Pula, ia tidak menatapku seperti biasa. Tetapi kedua tangannya, dengan sengaja, terulur ke arahku, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas, cincin berwarna keperakan yang melingkar di jari manisnya. Tapi tidak pada jariku.

Dan pada saat itu aku baru sadar dengan jelas, ada kata-kata dalam novel roman itu yang tidak diucapkannya padaku.

Aku mencintaimu… Hanya kamu satu-satunya.”

Yah, dia sangat jujur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s