[opini] Nikah Muda = Hindari Zina?

Sesekali saya mau menulis opini. Jangan harap opini ini seperti esai yang memunculkan banyak data, sitasi, dan kata-kata yang berlevel tinggi seperti opini kebanyakan ya, hehe.

Sore tadi saya gabut, guling-guling di kasur kosan sambil nge-scroll timeline LINE. Lalu ada sebuah status yang cukup menarik menurut saya. Penulis status mengunggah sebuah foto hasil capture dari akun Instagram yang menulis tentang insiden…. pemerkosaan? Entah, tapi yang saya tangkap intinya sebuah insiden yang berujung pada perzinaan karena nafsu yang tidak terbendung. Ya, intinya seperti itu, lalu ada sebuah komentar yang kemudian menjadi fokus status LINE tersebut. Komentar seperti apa?

Kalau udah gini, keputusan gue masih salah ngga? (Begitu kira-kira bunyinya. Keputusan apa? Siapa yang komentar seperti ini?)

Sebut saja namanya Alvin (Namanya memang itu sih, hehe). Cukup terkenal di media sosial karena Alvin ini merupakan seorang anak Ustad terkenal di Indonesia, dan pernikahannya yang waktu itu sempat menjadi kontroversi karena pada saat itu baik Alvin masih berumur 17 tahun.

/deep sigh/

Umur segitu sih saya lagi pusing-pusingnya belajar buat Ujian Nasional dan mempersiapkan SBMPTN. Tapi setidaknya lebih baik daripada pusing mempersiapkan pernikaha. Di. Umur. Tujuh. Belas. Tahun.

Kurang tahu juga, apakah istri dari Alvin seusia dengannya, tapi sepertinya sih iya. Tolong beritahu kalau saya salah ya, hehe.

Mengapa pernikahan dini ini jadi kontroversi? Sebuah sumber berita menyebutkan, viralnya pernikahan Alvin dan istri yang tidak biasa ini memicu para kawula muda yang bahkan belum berkepala-dua jadi ingin menikah muda juga. Yang paling penting, dari kontroversi ini jugalah yang (mungkin) membuat bermunculan kampanye-kampanye, yang intinya, mengajak para remaja untuk menikah muda demi menghindari zina. Sebenarnya pernikahan Alvin dan istri ini memang sudah lama terjadi dan sudah jarang dibicarakan banyak orang lagi, tetapi kampanye menikah muda ini masih terus berjalan, hingga sekarang.

Tidak, saya tidak mau menyalahkan atau mengomentari keputusan Alvin untuk menikah di usia belia. Ya itu sih terserah dia, karena saya yakin Alvin dan istri sudah punya pemikiran dan perencanaan yang matang, ditambah kesiapannya secara mental, fisik, dan finansial untuk memulai kehidupan rumah tangga, dan yang paling penting, restu dari kedua orangtua mereka. Lagipula, kalau melihat-lihat foto pernikahan mereka, keduanya serasi kok, hehe. Serius.

Yang mau saya permasalahkan adalah kampanye-kampanye menikah muda yang cukup galak di antara anak-anak remaja ini. Jujur, saya sempat bingung dan penasaran setengah mati, kenapa bisa-bisanya sesuatu yang terhitung sakral, tidak boleh dianggap main-main, dan harus direncanakan secara matang karena memiliki pengaruh yang cukup besar pada masa depan mereka yang melakukannya– tiba-tiba jadi fenomenal untuk dilaksanakan di usia muda? Ya Tuhan, ini pernikahan!

Usut punya usut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya. Menikah muda demi menghindari zina.

Mungkin para pengkampanye menikah muda ini khawatir dengan maraknya pergaulan yang tidak pantas dan seks bebas di antara para remaja. Ya, saya juga khawatir kok. Apalagi pengaruh dari budaya barat dan negara lain yang memang tidak sesuai dengan syari’at Islam mulai dijadikan patokan lifestyle-goals oleh anak-anak muda, dan membuat mereka tidak bisa menahan hawa nafsu mereka. Dan… BOOM.

Ya, gitu. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana para remaja yang terpengaruh oleh kampanya menikah-muda-supaya-tidak-berzina ini merengek-rengek pada orangtuanya supaya diberi restu untuk menikah dini, sebelas-duabelas seperti merengek minta dibelikan smartphone. Semoga tidak ada kejadian seperti ini.

Tapi, apakah sebuah pernikahan dilaksanakan semata atas dasar supaya bisa ena-ena tanpa harus terkena dosa? Sesederhana itu?

Sebenarnya saya tidak mau banyak bicara bagaimana membantah semua kampanye-kampanye sejenis ini, karena menurut saya, sabda Rasulullah saw. berikut ini seharusnya sudah cukup menjawab tentang urgensi dari pernikahan dini yang sedang fenomenal ini.

“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya harus tekankan di sini, pernikahan menurut hukum Islam pun bukan sesuatu yang bersifat Wajib, tetapi Sunnah. Ia tidak akan menimbulkan dosa jika tidak dilakukan, dengan catatan, selama mereka yang tidak melakukannya tidak berbuat zina.

Pernikahan bukan sesuatu yang hanya dilandaskan atas keinginan dan kebutuhan untuk bersetubuh. Banyaaaak sekali hal yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum menikah. Bagaimana kelanjutan hidup setelah menikah? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga? Siapkah mereka sebenarnya untuk menikah secara mental dan fisik, serta restu orangtua?

Yuk, kita balik pertanyaannya. Kalau belum siap, bagaimana?

Berpuasalah. Mari tunggu hingga kamu benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan sembari menunggu kamu siap dan calonmu siap. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mengambil kursus, bekerja, mengikuti kegiatan sosial, masih banyak lagi kegiatan berkualitas yang pastinya akan meningkatkan kualitas pribadimu dan akan sangat berguna untuk diimplementasikan di kehidupan pasca menikah nanti.

Tidak usah terburu-buru, jodohmu sudah ada yang mengatur kok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s