Nikah Muda = Hindari Zina? #hari-8

Sesekali saya mau menulis opini. Jangan harap opini ini seperti esai yang memunculkan banyak data, sitasi, dan kata-kata yang berlevel tinggi seperti opini kebanyakan ya, hehe.

Sore tadi saya gabut, guling-guling di kasur kosan sambil nge-scroll timeline LINE. Lalu ada sebuah status yang cukup menarik menurut saya. Penulis status mengunggah sebuah foto hasil capture dari akun Instagram yang menulis tentang insiden…. pemerkosaan? Entah, tapi yang saya tangkap intinya sebuah insiden yang berujung pada perzinaan karena nafsu yang tidak terbendung. Ya, intinya seperti itu, lalu ada sebuah komentar yang kemudian menjadi fokus status LINE tersebut. Komentar seperti apa?

Kalau udah gini, keputusan gue masih salah ngga? (Begitu kira-kira bunyinya. Keputusan apa? Siapa yang komentar seperti ini?)

Sebut saja namanya Alvin (Namanya memang itu sih, hehe). Cukup terkenal di media sosial karena Alvin ini merupakan seorang anak Ustad terkenal di Indonesia, dan pernikahannya yang waktu itu sempat menjadi kontroversi karena pada saat itu baik Alvin masih berumur 17 tahun.

/deep sigh/

Umur segitu sih saya lagi pusing-pusingnya belajar buat Ujian Nasional dan mempersiapkan SBMPTN. Tapi setidaknya lebih baik daripada pusing mempersiapkan pernikaha. Di. Umur. Tujuh. Belas. Tahun.

Kurang tahu juga, apakah istri dari Alvin seusia dengannya, tapi sepertinya sih iya. Tolong beritahu kalau saya salah ya, hehe.

Mengapa pernikahan dini ini jadi kontroversi? Sebuah sumber berita menyebutkan, viralnya pernikahan Alvin dan istri yang tidak biasa ini memicu para kawula muda yang bahkan belum berkepala-dua jadi ingin menikah muda juga. Yang paling penting, dari kontroversi ini jugalah yang (mungkin) membuat bermunculan kampanye-kampanye, yang intinya, mengajak para remaja untuk menikah muda demi menghindari zina. Sebenarnya pernikahan Alvin dan istri ini memang sudah lama terjadi dan sudah jarang dibicarakan banyak orang lagi, tetapi kampanye menikah muda ini masih terus berjalan, hingga sekarang.

Tidak, saya tidak mau menyalahkan atau mengomentari keputusan Alvin untuk menikah di usia belia. Ya itu sih terserah dia, karena saya yakin Alvin dan istri sudah punya pemikiran dan perencanaan yang matang, ditambah kesiapannya secara mental, fisik, dan finansial untuk memulai kehidupan rumah tangga, dan yang paling penting, restu dari kedua orangtua mereka. Lagipula, kalau melihat-lihat foto pernikahan mereka, keduanya serasi kok, hehe. Serius.

Yang mau saya permasalahkan adalah kampanye-kampanye menikah muda yang cukup galak di antara anak-anak remaja ini. Jujur, saya sempat bingung dan penasaran setengah mati, kenapa bisa-bisanya sesuatu yang terhitung sakral, tidak boleh dianggap main-main, dan harus direncanakan secara matang karena memiliki pengaruh yang cukup besar pada masa depan mereka yang melakukannya– tiba-tiba jadi fenomenal untuk dilaksanakan di usia muda? Ya Tuhan, ini pernikahan!

Usut punya usut, akhirnya saya mendapatkan jawabannya. Menikah muda demi menghindari zina.

Mungkin para pengkampanye menikah muda ini khawatir dengan maraknya pergaulan yang tidak pantas dan seks bebas di antara para remaja. Ya, saya juga khawatir kok. Apalagi pengaruh dari budaya barat dan negara lain yang memang tidak sesuai dengan syari’at Islam mulai dijadikan patokan lifestyle-goals oleh anak-anak muda, dan membuat mereka tidak bisa menahan hawa nafsu mereka. Dan… BOOM.

Ya, gitu. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana para remaja yang terpengaruh oleh kampanya menikah-muda-supaya-tidak-berzina ini merengek-rengek pada orangtuanya supaya diberi restu untuk menikah dini, sebelas-duabelas seperti merengek minta dibelikan smartphone. Semoga tidak ada kejadian seperti ini.

Tapi, apakah sebuah pernikahan dilaksanakan semata atas dasar supaya bisa ena-ena tanpa harus terkena dosa? Sesederhana itu?

Sebenarnya saya tidak mau banyak bicara bagaimana membantah semua kampanye-kampanye sejenis ini, karena menurut saya, sabda Rasulullah saw. berikut ini seharusnya sudah cukup menjawab tentang urgensi dari pernikahan dini yang sedang fenomenal ini.

“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat lebih menundukkan pandangan, dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah penjaga baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saya harus tekankan di sini, pernikahan menurut hukum Islam pun bukan sesuatu yang bersifat Wajib, tetapi Sunnah. Ia tidak akan menimbulkan dosa jika tidak dilakukan, dengan catatan, selama mereka yang tidak melakukannya tidak berbuat zina.

Pernikahan bukan sesuatu yang hanya dilandaskan atas keinginan dan kebutuhan untuk bersetubuh. Banyaaaak sekali hal yang harus dipertimbangkan matang-matang sebelum menikah. Bagaimana kelanjutan hidup setelah menikah? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan rumah tangga? Siapkah mereka sebenarnya untuk menikah secara mental dan fisik, serta restu orangtua?

Yuk, kita balik pertanyaannya. Kalau belum siap, bagaimana?

Berpuasalah. Mari tunggu hingga kamu benar-benar siap menjalani kehidupan rumah tangga. Banyak sekali hal yang bisa dilakukan sembari menunggu kamu siap dan calonmu siap. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, mengambil kursus, bekerja, mengikuti kegiatan sosial, masih banyak lagi kegiatan berkualitas yang pastinya akan meningkatkan kualitas pribadimu dan akan sangat berguna untuk diimplementasikan di kehidupan pasca menikah nanti.

Tidak usah terburu-buru, jodohmu sudah ada yang mengatur kok.

Pensil #hari-6

Kriteria pensil sempurna: tajam.

Tidak peduli seberapa pendek panjangnya, unikkah motifnya; selama batang grafitnya itu runcing seperti ujung jarum, kamu seakan rela mengorbankan apapun demi tulisanmu yang indah; demi sebuah pujian kecil bahkan dari dirimu sendiri..

Tanpa kamu sadari pensil sempurnamu itu bisa saja membuka luka, mengalirkan darah, atau mengoyak kertas putihmu sendiri; kalau kamu tidak berhati-hati.

Hantu #hari-5

[ PERHATIAN ]

Ini. Fiksi. Terima kasih. 😦


 

Novel horror hasil pinjaman yang kubaca siang tadi menyisakan sebuah ucapan dari dialog sang tokoh dalam benak.

“…rasa penasaran yang melewati batas akan mengantarkanmu pada kematian lebih awal.”

Terus terang, aku merinding, sedikit. Tetapi kata-kata tersebut terus terngiang-ngiang di telingaku, hingga aku mulai memikirkan hal-hal mistis yang sebenarnya itu semua hanya fiksi semata, sedang terjadi di sekitarku. Aku menutup pintu rumah perlahan dan menatap pintu kamar kedua orangtuaku di sudut ruang tamu. Malam ini aku pulang lebih cepat. Bukan tidak mungkin ada “penghuni lain” di balik pintu itu bukan?

Masih dipengaruhi pikiran yang terkontaminasi adegan-adegan mengerikan dalam novel tadi, aku membuka pintu itu dengan satu sentakan cepat.

Ya, memang ada “penghuni lain”.

Keduanya sama-sama menatapku, sementara aku berdiri di tempat tanpa bersuara. Tenggorokanku serasa tercekik.

Ini pemandangan yang lebih seram dari fantasiku. Tidak, mereka bukan hantu. Mereka manusia, yang satu pria kebanggaanku, kecintaanku, Ayahku. Yang satu wanita, tapi bukan Ibuku. Bergumul satu sama lain, tanpa sehelai benang menutupi.

Benar apa yang dikatakan novel itu. Rasa penasaran ini kelak mengantarkanku pada kematian lebih awal, karena aku sendiri.

Cincin #hari-4

“Aku mencintaimu,” ujar lelaki itu padaku, sambil memegang kedua tanganku di lapangan rumput, suatu hari. Aku tersenyum sumringah dan balas menggenggam tangannya, dengan jantung yang berdebar tidak karuan. Persis seperti orang yang jatuh cinta, menurut novel-novel roman itu. Matanya menyiratkan kesungguhan dan kejujuran, maka aku percaya.

“Aku mencintaimu,” ujarnya, lagi, sambil menyodorkan permen kapas besar berwarna merah muda padaku, di sebuah taman bermain, beberapa hari kemudian. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa tersenyum, menunduk, tidak bisa menahan perasaan senang yang membuncah di hati, seraya membatin, kelak kami akan terus bersama.

“….”

Senyap, tidak ada yang bersuara. Baik aku dan lelaki itu, kami sama-sama diam. Pula, ia tidak menatapku seperti biasa. Tetapi kedua tangannya, dengan sengaja, terulur ke arahku, sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas, cincin berwarna keperakan yang melingkar di jari manisnya. Tapi tidak pada jariku.

Dan pada saat itu aku baru sadar dengan jelas, ada kata-kata dalam novel roman itu yang tidak diucapkannya padaku.

Aku mencintaimu… Hanya kamu satu-satunya.”

Yah, dia sangat jujur.

Sapi #hari-3

Ada seekor sapi di sawah. Ia menarik bajak sepanjang lahan. Petani berdiri di atasnya, sambil menarik dua tali pengekang yang terikat pada leher agar sapi tetap sesuai pada jalurnya. Setelah seluruh tanah gembur, barulah sapi itu dilepas, dimandikan, diberi pakan, dan masuk ke dalam kandang, tidur. Kalau ia bunting, sapi akan mendapat jatah ‘libur’. Ia bebas tidur, ataupun bebas lepas di tanah lapang. Meskipun tidak bekerja, petani masih sayang padanya.

Di seberang sawah ada rumah. Besar dan mewah. Sepertinya kehidupan di dalamnya nyaman sekali. Pikirmu, adakah yang merasa tidak nyaman? Ada.

Ia bisa lelaki, bisa perempuan. Bisa anak-anak, bisa dewasa, bahkan yang sudah renta sekalipun. Pakaiannya lusuh, wajahnya kusam dan lelah. Padahal ia tidak membajak sawah, ‘hanya’ melayani sang tuan. Tuan ingin makan, ia masakkan. Tuan ingin pergi, ia payungi. Tuan ingin sesuatu, ia lakukan. Aturan mainnya, ia tidur setelah tuan terlelap, dan bangun sebelum tuan terjaga. Intinya, tuan berkata, ia harus lakukan. Belum tentu ia diberi makan, apalagi disayang.

Ironis, ya?

Padahal manusia bukan sapi. Ia manusia, sama sepertimu, Tuan.

Keranjang #hari-2

Seseorang pernah berkata, “Jadilah orang sukses, bertanggung jawab, atau setidaknya punya kontribusi yang berguna bagi banyak orang.”

Mudah memang mendengarnya, tetapi percayalah, kamu akan berubah pikiran 180 derajat ketika menjalaninya. Tanya saja mahasiswa-mahasiswa petinggi organisasi itu. Tanya saja mahasiswa-mahasiswa aktivis itu. Tanya saja manajer dan petinggi-petinggi perusahaan itu. Tanya saja mereka yang punya titel di pemerintahan itu. Tanya saja aku, kami, yang baru menangani satu organisasi kampus saja sudah merasa kurang tidur. Sepele didengar, tetapi memang enak punya tanggung jawab?

Mungkin kamu menganggap tidur siang merupakan rutinitas yang biasa- dan bahkan kamu sudah bosan melakukannya. Tapi bagi kami, tidur siang selama enampuluh menit merupakan anugrah yang luar biasa.

Hidupmu mungkin hanya sebatas mengangkut keranjang kosong, ringan tanpa beban isi. Namun kami memilih untuk mengisi keranjang kami dengan batu-batu yang semakin lama semakin membebani punggung dan mengikis tenaga. Apa gunanya? Tawa kalian terhadap kami. Merasa banggakah kalian dengan batu-batu dan sampah itu?

Tapi, kawan-kawanku yang penuh tanggung jawab, setidaknya batu-batu dan sampah itu tidak lagi menghalangi langkah teman-teman kita di jalan. Semoga kalian paham maksudku.

Sepatu #hari-1

“Bagaimana? Jahitan Mamang-nya rapi, ya,” ujar Ibu tersenyum seraya meletakkan kedua sepatu hitam di dekat kakiku. Refleks aku menggeser sedikit kedua kakiku karena Ibu berjongkok di hadapanku yang sedang duduk di kursi. Masih merasa tidak sopan, akhirnya aku ikut berjongkok di samping Ibu dan mengangkat sepatu yang baru disol itu, memperhatikan garis benang sepatu yang terjahit rapi di sepanjang sisi sepatu— dalam diam.

Sepatu itu bukan sepatu baru yang memang sengaja dijahit agar lebih kuat. Sepatu itu dibeli setahun yang lalu, menggantikan sepatu lama yang sudah berkali-kali disol dan memang harus menerima nasibnya berakhir di tong sampah karena bagian solnya sudah robek, tidak mungkin diperbaiki lagi. Sepatu ‘baru’ yang ini, kelihatannya cukup tangguh dan lebih kokoh menghadapi aktivitas kakiku sebagai kaki anak sekolahan yang hiperaktif.

Kini statusku bukan lagi anak sekolahan, melainkan calon perantau yang akan melanjutkan pendidikan di kota lain sendirian, tanpa Ibu dan Ayah. Sebelumnya tidak terduga bahwa sepatu ini ikut ‘naik kelas’ dengan setia akan menemani hari-hariku di lingkungan kampus.

Karena ekspektasiku untuk memiliki sepatu baru ternyata meleset.

Tidak mungkin aku memprotes seperti anak-anak lain yang mungkin akan langsung menangis, merengek bahkan memarahi orangtuanya sendiri meminta dibelikan sepatu baru seperti di sinetron-sinetron sampah yang tayang di televisi itu.

“Tapi nanti tetap beli sepatu baru ‘kan, Bu?” tanyaku setengah bercanda. Setengah berharap juga. Dasar anak durhaka.

“Iya, nanti kalau ada rezeki lebih pasti buat kamu juga kok,” jawab Ibu. “Sabar ya,” lanjutnya. Masih tersenyum.

Ya Tuhan, aku rela berkampus ria dengan sandal jepit selama aku masih bisa melihat Ibu tersenyum seperti itu.