Halo #hari-23

Ada yang bilang, sebuah ucapan “halo” dapat mengindikasikan sebuah perpisahan yang tak bisa dipertemukan kembali.
Karena pada dasarnya pertemuan itu ada sebagai alasan untuk mengucapkan “selamat tinggal”.

Advertisements

Rumah #hari-20

Hari ini, di tengah hectic-nya tugas, baik tugas kuliah maupun kepanitiaan, saya nekat pulang ke rumah. Iya, rumah di planet Bekasi sana. Saya rela menghabiskan 8 jam duduk di kereta, membolos kelas sore (yang biasanya dipindah ke hari Rabu pagi) demi bisa pulang ke rumah.

Beberapa teman yang saya ceritakan sempat nyinyir. Ya memang, saya akui, manja sekali seorang mahasiswa tidak bisa menahan rasa homesick? Dikira harga tiket kereta Yogyakarta-Bekasi seharga tiket KRL di Jakarta?

Saya, sebagai anak perantau yang cukup tangguh tidak pulang kecuali saat libur akhir semester memang sempat menjadi salah satu dari mereka yang nyinyir itu. Tapi sekarang, bahkan setiap akan tidur saya selalu menangis diam-diam karena rindu pelukan Ibu di saat saya sedang terbebani oleh tugas sekolah, memiliki masalah dengan teman, kesulitan dengan pelajaran, dan beban-beban lainnya. Dan semua yang saya alami di masa sekolah itu belum ada apa-apanya dibanding dengan semua yang telah dan sedang saya alami di dunia perkuliahan ini.

Ah, malu kalau saya lanjut. Mau bagaimana lagi, saya masih tergolong newbie menjalani kehidupan kuliah. Ini cuma sekedar tulisan galau anak yang baru pisah dari orangtua.

Perjuangan #hari-9

Kalau kemarin saya beropini, hari ini boleh ‘kan saya bercerita? Hehe.

Dilihat dari judulnya, saya seakan-akan mau bercerita soal perjuangan pahlawan atau kisah heroik lainnya seperti cerita-cerita kebanyakan. Sayangnya bukan. Ini cerita perjuangan saya sendiri. Bagaimana saya bisa berada di sini, duduk manteng di depan laptop, sedang sibuk-sibuknya menggarap proposal untuk kegiatan PPSMB jurusan demi menyambut adik-adik tingkat saya nanti, sementara esok pagi pukul 6 saya sudah harus berada di kampus menjadi panitia acara pertandingan voli antar SMA/SMK, dan tugas-tugas saya yang lain sudah menunggu minta dituntaskan, dan yang paling terpenting: Bagaimana saya saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada?

Pada masa SMA dulu, ketahuilah saya sama sekali bukan murid yang tergolong pintar dan cerdas seperti yang teman-teman bayangkan. Apalagi berprestasi. Di kelas, baik kelas 10, 11, hingga 12, saya bukan murid yang langganan atau sering mendapatkan nilai ulangan di atas sembilan, karena saya menganggap nilai tujuh pun merupakan suatu prestasi luar biasa bagi saya. Bukan karena pelajarannya yang sulit, tapi memang saya yang bodoh.
Bisa dibilang saya murid IPA gadungan. Tidak satu pun pelajaran IPA yang bisa dikatakan saya kuasai, karena saya lemah pada keempatnya. Ditambah saya bukan anak yang punya sifat rajin. Sebagai pelengkap dari segala kelemahan yang saya punya, saya bukan orang yang punya banyak uang untuk sekadar membeli buku soal, apalagi mengikuti bimbel. Jadi semuanya saya perjuangkan sendiri bermodalkan otak yang super kopong ini, dan bisa teman-teman tebak sendiri hasilnya. Nilai mungkin nggak terlalu jeblok-jeblok amat, karena sepertinya terbantu dari pelajaran non-IPA lainnya. Tapi masalahnya, teman-teman saya adalah orang-orang yang luar biasa ambisinya untuk mengejar kampus impian mereka dengan segala kecerdasan yang mereka punya. Alhasil, kesempatan untuk bisa mengikuti SNMPTN pun saya tidak punya, lolos PDSS-nya pun tidak. Ya, saya masuk ke dalam golongan 25% murid dengan nilai terendah di sekolah.
Tapi rupanya, Allah justru mempermudah jalan saya dengan kegagalan itu. Tidak lebih dari 2 minggu, saya berhasil bangkit kembali dari keterpurukan menyesali nilai rapot saya yang membuat pupus kesempatan untuk ikut SNMPTN. Saya kembali menemukan semangat untuk mengejar ketertinggalan materi UN (yang hasilnya jangan ditanya karena mau mengingat pun saya enggan) dan tibalah masanya memperjuangkan SBMPTN. Karena saya murid IPA yang selama tiga tahun belajar IPA, saya terpaksa mengejar materi lintas jurusan alias IPS dalam kurun waktu kurang dari 2 bulan dan lagi, tanpa bimbel
Di tengah-tengah masa perjuangan inilah, saya menemukan strategi untuk bisa mengejar skor SBMPTN, yaitu dengan memperkuat “kemahiran” saya mengerjakan soal TKPA yang jumlahnya lebih banyak dari materi SOSHUM itu sendiri. Jadi setidaknya saya bisa mendapatkan bonus nilai 30% jika saya bisa menjawab 45 soal TPA dengan lancar. Strategi ini saya dapatkan dari teman seperjuangan saya yang bernasib sama pada masa sekolah dan tidak bisa ikut SNMPTN karena nilai sama-sama kurang. Anyway, syukur alhamdulillah dia bisa mencapai mimpi terbesar sekaligus terbodohnya (Dia sendiri lho yang bilang) sejak kelas 10, yaitu masuk FSRD ITB.
Kurang lebih H-seminggu SBMPTN, saya mendapatkan rezeki luar biasa dari teman saya yang sudah berhasil lebih dulu mendapatkan bangku di Pendidikan Dokter Universitas Andalas melalui jalur SNMPTN. Sebelumnya dia sudah mengikuti bimbingan intensif di sebuah lembaga bimbel, dan kemudian jatahnya yang tersisa seminggu itu dihibahkan kepada saya. Dan selama seminggu yang tersisa itu pula saya mengejar materi SOSHUM yang selama ini tidak saya dapatkan dengan belajar sendiri.
Dan pada H-1 sebelum SBMPTN dilaksanakan, saya sengaja membebaskan diri saya dari segala yang berhubungan dengan belajar agar tidak stres, dan menggantinya dengan istirahat serta berdoa, termasuk menunaikan sholat hajat dan tahajud. Oh ya, H+5 SBMPTN saya juga mengikuti seleksi pada suatu universitas swasta yang kebetulan menyediakan beasiswa tidak mampu. Jadi setidaknya saya punya cadangan apabila SBMPTN pupus. Tidak lolos dua-duanya? Ya, ((tinggal)) gap year. Sejak awal saya memang sudah menyiapkan mental untuk melalui masa gap year dengan mengikuti SBMPTN tahun berikutnya jika saya tidak bisa berkuliah tahun ini. Namun siapa yang nggak deg-degan sih menunggu pengumuman SBMPTN? Sampai saya pun hampir melupakan hari “ketambahan umur” yang memang tanggalnya berdempetan sehari dengan hari pengumuman.
Saya masih ingat dengan detil gejolak perasaan apa saja yang saya alami selama detik-detik sebelum, saat, dan setelah membuka website pengumuman. Saya bahkan sudah bersiap dan yakin tidak akan menangis jika saya tidak lolos di salah satu dari tiga pilihan universitas, mungkin karena tempaan mental sejak dini untuk menghadapi masa gap year. Kenyataannya, saya menangis. Menangis saat mendapati tulisan “Selamat! Anda dinyatakan lulus seleksi SBMPTN 2016 di : ILMU KOMUNIKASI, UNIVERSITAS GADJAH MADA” tertera di layar HP.
Kegigihan, keyakinan, dan kekuatan. Nilai itulah yang menjadi modal saya menempuh seluruh rangkaian perjuangan dari nol besar hingga saat ini, saat di mana saya belum tuntas menyelesaikan proposal yang harus diserahkan ke fakultas besok dan malah mengetik cerita ini karena capek. Asli, jadi mahasiswa, apalagi yang aktif berorganisasi itu capek.

Tapi saya tidak menyesal. Inilah yang saya cari: Pengalaman.

Intinya, pesan untuk teman-teman yang mungkin merasa bernasib sama, saya ingin kalian percaya keajaiban itu ada. Bukan keajaiban tanpa modal apapun kalian bisa lolos ke universitas yang kalian inginkan, tapi keajaiban kalian bisa bangkit dari keterpurukan karena tidak punya modal apa-apa. Sisanya, silakan tafsirkan sendiri tambahan moral dari kisah saya ini. Sekian, dan terima cinta.

Pensil #hari-6

Kriteria pensil sempurna: tajam.

Tidak peduli seberapa pendek panjangnya, unikkah motifnya; selama batang grafitnya itu runcing seperti ujung jarum, kamu seakan rela mengorbankan apapun demi tulisanmu yang indah; demi sebuah pujian kecil bahkan dari dirimu sendiri..

Tanpa kamu sadari pensil sempurnamu itu bisa saja membuka luka, mengalirkan darah, atau mengoyak kertas putihmu sendiri; kalau kamu tidak berhati-hati.

Sapi #hari-3

Ada seekor sapi di sawah. Ia menarik bajak sepanjang lahan. Petani berdiri di atasnya, sambil menarik dua tali pengekang yang terikat pada leher agar sapi tetap sesuai pada jalurnya. Setelah seluruh tanah gembur, barulah sapi itu dilepas, dimandikan, diberi pakan, dan masuk ke dalam kandang, tidur. Kalau ia bunting, sapi akan mendapat jatah ‘libur’. Ia bebas tidur, ataupun bebas lepas di tanah lapang. Meskipun tidak bekerja, petani masih sayang padanya.

Di seberang sawah ada rumah. Besar dan mewah. Sepertinya kehidupan di dalamnya nyaman sekali. Pikirmu, adakah yang merasa tidak nyaman? Ada.

Ia bisa lelaki, bisa perempuan. Bisa anak-anak, bisa dewasa, bahkan yang sudah renta sekalipun. Pakaiannya lusuh, wajahnya kusam dan lelah. Padahal ia tidak membajak sawah, ‘hanya’ melayani sang tuan. Tuan ingin makan, ia masakkan. Tuan ingin pergi, ia payungi. Tuan ingin sesuatu, ia lakukan. Aturan mainnya, ia tidur setelah tuan terlelap, dan bangun sebelum tuan terjaga. Intinya, tuan berkata, ia harus lakukan. Belum tentu ia diberi makan, apalagi disayang.

Ironis, ya?

Padahal manusia bukan sapi. Ia manusia, sama sepertimu, Tuan.

Keranjang #hari-2

Seseorang pernah berkata, “Jadilah orang sukses, bertanggung jawab, atau setidaknya punya kontribusi yang berguna bagi banyak orang.”

Mudah memang mendengarnya, tetapi percayalah, kamu akan berubah pikiran 180 derajat ketika menjalaninya. Tanya saja mahasiswa-mahasiswa petinggi organisasi itu. Tanya saja mahasiswa-mahasiswa aktivis itu. Tanya saja manajer dan petinggi-petinggi perusahaan itu. Tanya saja mereka yang punya titel di pemerintahan itu. Tanya saja aku, kami, yang baru menangani satu organisasi kampus saja sudah merasa kurang tidur. Sepele didengar, tetapi memang enak punya tanggung jawab?

Mungkin kamu menganggap tidur siang merupakan rutinitas yang biasa- dan bahkan kamu sudah bosan melakukannya. Tapi bagi kami, tidur siang selama enampuluh menit merupakan anugrah yang luar biasa.

Hidupmu mungkin hanya sebatas mengangkut keranjang kosong, ringan tanpa beban isi. Namun kami memilih untuk mengisi keranjang kami dengan batu-batu yang semakin lama semakin membebani punggung dan mengikis tenaga. Apa gunanya? Tawa kalian terhadap kami. Merasa banggakah kalian dengan batu-batu dan sampah itu?

Tapi, kawan-kawanku yang penuh tanggung jawab, setidaknya batu-batu dan sampah itu tidak lagi menghalangi langkah teman-teman kita di jalan. Semoga kalian paham maksudku.