Pensil #hari-6

Kriteria pensil sempurna: tajam.

Tidak peduli seberapa pendek panjangnya, unikkah motifnya; selama batang grafitnya itu runcing seperti ujung jarum, kamu seakan rela mengorbankan apapun demi tulisanmu yang indah; demi sebuah pujian kecil bahkan dari dirimu sendiri..

Tanpa kamu sadari pensil sempurnamu itu bisa saja membuka luka, mengalirkan darah, atau mengoyak kertas putihmu sendiri; kalau kamu tidak berhati-hati.

Sapi #hari-3

Ada seekor sapi di sawah. Ia menarik bajak sepanjang lahan. Petani berdiri di atasnya, sambil menarik dua tali pengekang yang terikat pada leher agar sapi tetap sesuai pada jalurnya. Setelah seluruh tanah gembur, barulah sapi itu dilepas, dimandikan, diberi pakan, dan masuk ke dalam kandang, tidur. Kalau ia bunting, sapi akan mendapat jatah ‘libur’. Ia bebas tidur, ataupun bebas lepas di tanah lapang. Meskipun tidak bekerja, petani masih sayang padanya.

Di seberang sawah ada rumah. Besar dan mewah. Sepertinya kehidupan di dalamnya nyaman sekali. Pikirmu, adakah yang merasa tidak nyaman? Ada.

Ia bisa lelaki, bisa perempuan. Bisa anak-anak, bisa dewasa, bahkan yang sudah renta sekalipun. Pakaiannya lusuh, wajahnya kusam dan lelah. Padahal ia tidak membajak sawah, ‘hanya’ melayani sang tuan. Tuan ingin makan, ia masakkan. Tuan ingin pergi, ia payungi. Tuan ingin sesuatu, ia lakukan. Aturan mainnya, ia tidur setelah tuan terlelap, dan bangun sebelum tuan terjaga. Intinya, tuan berkata, ia harus lakukan. Belum tentu ia diberi makan, apalagi disayang.

Ironis, ya?

Padahal manusia bukan sapi. Ia manusia, sama sepertimu, Tuan.

#9

Bagi orang, nama itu sekadar penanda. Supaya aku dengan kamu beda, tak perlu menoleh dua-duanya kala dibutuhkan.

Ya, memang benar ketika ada maunya saja ‘kan? Itu realita.

Tapi bagi yang mencipta nama, satu-dua atau lebih kata itu sarat makna. Di belakang sepatah kata sederhana itu tersirat berjuta doa. Tak usah tergesa bertanya bapak, dia ingin kamu seperti apa. Karena semua yang dicita-citakannya sudah terpahat dalam serangkai kata yang jadi penandamu. Tugasmu bantu Ia wujudkan, tak hanya asal aminkan saja.

#6

Aku yang merasa tidak mampu, mereka bilang aku yang tidak mau.

Aku yang merasa direndahkan, mereka bilang aku yang merendah.

Aku yang merasa harus-menyimpan-semua-sendiri, mereka bilang aku yang tidak-mau-berbagi.

Aku yang merasa diabaikan, mereka bilang aku yang egois.

 

Mereka yang tidak peduli, atau aku yang tidak menyadari?

#5

Kamu tahu topeng? Benda yang dipakai di atas wajah. Bentuknya menyerupai wajah lain, yang pasti orang tidak akan tahu seperti apa wajah kita di dalamnya saat dipakai.

Kapan kamu terakhir memakai topeng? Saat SD kah? Topeng apa yang kamu maksud? Topeng badut? Topeng tokoh kesukaanmu?

Percaya atau tidak, aku selalu memakai topeng, aku hampir tidak pernah melepasnya. Kamu tahu topeng kesukaanku? Topeng wajah diriku sendiri, dengan bibir membentuk senyum lebar, yang kalau dilihat dari depan, aku seperti orang paling bahagia di muka bumi, tampak tanpa beban yang menggantung di kedua pundaknya.

Kalau kamu bertanya, memang enak memakai topeng? Aku akan menjawab: Ya! Kalau kamu bertanya kenapa, dengan senang hati pula aku akan memberitahumu.

Percayalah, memakai topeng itu menyenangkan!. Kamu bisa menangis, marah, bertingkah seperti apapaun yang kamu mau, tanpa seorang pun tahu apa yang kamu lakukan selain tersenyum lebar menikmati indahnya hidup. Tak ada yang tahu kamu menangisi nasib burukmu. Tak ada yang tahu kamu merencanakan ide busukmu. Tak ada yang tahu kamu menyimpan dendam pada sesuatu. Karena mereka semua tersembunyi di balik topengmu.

Jadi, bagaimana? Kamu tertarik untuk ikut memakai topeng?

Atau bahkan kamu selalu memakainya sejak dulu?

#3

Ada yang tahu rasanya mengharapkan sesuatu yang tak mungkin? Aku tahu.

Jangan tanyakan padaku seperti apa rasanya. Aku sendiri tidak ingat bagaimana rasanya….

Yah, kuakui, aku sudah terlalu sering merasakannya.

Kalau kamu benar-benar ingin tahu, aku punya satu jawaban.

Sakit.

Dan aku lupa bagaimana rasanya sakit itu.